Desain Media Peraga Ramah Lansia dan Anak Dipelajari Mahasiswa Akbid Prestasi Agung

Desain Media Peraga Ramah Lansia dan Anak Dipelajari Mahasiswa Akbid Prestasi Agung

Komunikasi kesehatan yang efektif tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada cara pesan tersebut disampaikan kepada masyarakat. Di bidang kebidanan dan kesehatan ibu-anak, media peraga memiliki peran penting dalam membantu pasien memahami informasi yang sering kali bersifat kompleks, seperti perawatan kehamilan, gizi ibu, imunisasi anak, hingga tanda bahaya pada masa nifas. Menyadari pentingnya aspek visual dalam edukasi kesehatan, Akademi Kebidanan Prestasi Agung mengembangkan pembelajaran berbasis desain media peraga ramah lansia dan anak melalui workshop kreatif yang menggabungkan prinsip desain universal, hierarki visual, pemilihan warna, tipografi, dan teknologi edukasi digital.

Program ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan merancang media edukasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia. Dalam praktik pelayanan kesehatan, bidan sering berinteraksi dengan ibu hamil, anak-anak, serta anggota keluarga lanjut usia yang memiliki kebutuhan komunikasi berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami bagaimana menyesuaikan tampilan media agar informasi dapat diterima secara optimal oleh seluruh audiens.

Pada tahap awal workshop, mahasiswa diperkenalkan pada konsep desain universal dalam kesehatan. Dosen menjelaskan bahwa media edukasi yang baik harus dapat diakses oleh sebanyak mungkin orang tanpa memerlukan adaptasi khusus. Prinsip ini mencakup keterbacaan teks, kontras warna yang cukup, penggunaan simbol yang mudah dikenali, serta tata letak yang tidak membingungkan. Pendekatan tersebut sangat penting ketika media digunakan di ruang tunggu klinik, posyandu, atau kegiatan penyuluhan masyarakat.

Baca Juga: Mahasiswa Akbid Prestasi Agung Belajar Manajemen Sanitasi dan Air Bersih Warga

Salah satu materi yang mendapat perhatian besar adalah hierarki visual. Mahasiswa belajar bagaimana mengatur elemen desain agar audiens langsung melihat informasi paling penting terlebih dahulu. Judul ditempatkan pada area yang paling mudah terlihat, poin utama diberi ukuran huruf lebih besar, dan informasi pendukung disusun secara bertahap. Dengan hierarki yang jelas, lansia tidak perlu membaca seluruh isi poster untuk menemukan pesan utama, sedangkan anak-anak dapat menangkap informasi melalui elemen visual yang dominan.

Pemilihan palet warna juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Dosen menjelaskan bahwa warna memiliki pengaruh psikologis terhadap penerima pesan. Warna biru dan hijau sering digunakan untuk menciptakan kesan tenang dan aman, sedangkan merah dan oranye digunakan untuk menandai peringatan atau kondisi darurat. Mahasiswa dilatih memilih kombinasi warna yang tetap nyaman dilihat oleh lansia yang mungkin mengalami penurunan sensitivitas penglihatan.

Dalam sesi praktik, mahasiswa diminta mendesain poster tentang tanda bahaya kehamilan. Mereka harus menggunakan maksimal tiga warna utama, memastikan kontras antara teks dan latar belakang, serta menghindari penggunaan ornamen berlebihan. Hasil desain kemudian dipresentasikan dan dievaluasi berdasarkan tingkat keterbacaan, kejelasan pesan, dan kesesuaian dengan prinsip desain universal.

Selain warna, tipografi menjadi fokus pembelajaran berikutnya. Banyak media kesehatan gagal dipahami karena menggunakan huruf terlalu kecil atau jenis font yang sulit dibaca. Mahasiswa diajarkan memilih font sederhana dengan jarak antarhuruf dan antarbaris yang cukup. Untuk audiens lansia, ukuran huruf diperbesar dan teks dipecah menjadi poin-poin singkat. Sementara untuk anak-anak, kombinasi teks pendek dengan ilustrasi lebih diutamakan agar perhatian mereka tetap terjaga.

Workshop tidak hanya berfokus pada media cetak. Mahasiswa juga belajar membuat infografis digital yang dapat dibagikan melalui media sosial atau aplikasi pesan. Dalam era digital, banyak informasi kesehatan diakses melalui ponsel, sehingga desain harus tetap jelas meskipun dilihat pada layar berukuran kecil. Mahasiswa dilatih menyusun infografis dengan struktur vertikal, ikon yang konsisten, dan jumlah teks yang tidak berlebihan.

Salah satu proyek menarik adalah pembuatan infografis “Langkah Mencegah Anemia pada Ibu Hamil”. Mahasiswa menggunakan ikon makanan kaya zat besi, ilustrasi tablet tambah darah, dan diagram sederhana tentang jadwal konsumsi suplemen. Desain tersebut dinilai efektif karena mampu menyampaikan informasi penting dalam waktu singkat tanpa membuat audiens merasa kewalahan.

Program pembelajaran juga mencakup pembuatan model anatomi sederhana. Dengan menggunakan bahan yang mudah diperoleh seperti busa, karton, dan plastik fleksibel, mahasiswa membuat replika organ reproduksi wanita, posisi janin, dan mekanisme persalinan. Model fisik ini sangat membantu ketika menjelaskan proses kehamilan kepada pasien yang kesulitan memahami gambar dua dimensi.

Dosen menekankan bahwa alat peraga tiga dimensi memiliki keunggulan dalam meningkatkan pemahaman spasial, terutama bagi anak-anak dan pasien dengan tingkat literasi kesehatan rendah. Ketika pasien dapat melihat dan menyentuh model, proses edukasi menjadi lebih interaktif dan mudah diingat. Pengalaman langsung tersebut sering kali lebih efektif dibandingkan penjelasan verbal semata.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada video animasi edukatif sebagai media penyuluhan modern. Mereka belajar menyusun storyboard, memilih karakter yang ramah anak, dan mengatur durasi video agar tidak terlalu panjang. Dalam salah satu tugas, mahasiswa membuat animasi singkat tentang pentingnya cuci tangan sebelum menyentuh bayi baru lahir. Video tersebut menggunakan warna cerah, gerakan sederhana, dan narasi dengan bahasa yang mudah dipahami.

Penggunaan animasi dinilai sangat relevan untuk menarik perhatian anak-anak yang memiliki rentang konsentrasi lebih pendek. Sementara bagi lansia, video dengan suara jelas dan kecepatan penjelasan yang tidak terlalu cepat dapat membantu mereka mengikuti informasi dengan lebih nyaman. Dengan memahami karakteristik kedua kelompok ini, mahasiswa belajar menyesuaikan tempo dan gaya penyampaian media.

Dalam proses evaluasi, dosen tidak hanya menilai keindahan desain, tetapi juga efektivitas komunikasi kesehatan. Mahasiswa diminta melakukan uji coba media kepada kelompok simulasi yang mewakili lansia dan anak-anak. Mereka mengamati apakah audiens dapat memahami pesan tanpa penjelasan tambahan, bagian mana yang membingungkan, dan elemen apa yang paling menarik perhatian.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa lansia lebih menyukai poster dengan teks besar, kontras tinggi, dan ilustrasi realistis. Sebaliknya, anak-anak lebih tertarik pada gambar berwarna cerah, karakter kartun, dan informasi yang disampaikan melalui cerita singkat. Temuan ini menjadi bahan diskusi untuk memperbaiki desain agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Pembelajaran berbasis proyek seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan kuliah teori biasa. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep desain, tetapi juga memahami bagaimana media dapat memengaruhi perilaku kesehatan masyarakat. Ketika pesan disampaikan dengan cara yang mudah dipahami, peluang terjadinya perubahan perilaku menjadi lebih besar.

Akbid Prestasi Agung menilai bahwa kemampuan membuat media edukasi merupakan kompetensi penting bagi calon bidan. Di lapangan, bidan sering harus menjelaskan informasi dalam waktu terbatas kepada pasien dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Media peraga yang dirancang dengan baik dapat membantu mempercepat proses pemahaman dan mengurangi risiko kesalahan interpretasi.

Selain itu, workshop ini mendorong mahasiswa mengembangkan kreativitas berbasis ilmu kesehatan. Mereka belajar bahwa desain bukan sekadar aspek estetika, melainkan alat strategis untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Setiap pilihan warna, ukuran huruf, dan tata letak harus memiliki alasan yang berkaitan dengan kenyamanan dan pemahaman audiens.

Program ini juga memperkenalkan konsep aksesibilitas digital. Mahasiswa diajarkan menambahkan teks alternatif pada gambar, memastikan kontras cukup untuk pengguna dengan gangguan penglihatan, serta menghindari penggunaan kombinasi warna yang sulit dibedakan oleh penderita buta warna. Pendekatan ini memperluas jangkauan media sehingga dapat digunakan oleh lebih banyak orang.

Dalam sesi refleksi, banyak mahasiswa menyampaikan bahwa mereka baru menyadari betapa pentingnya desain dalam pelayanan kesehatan. Sebelumnya, mereka menganggap poster dan brosur hanyalah pelengkap penyuluhan. Setelah mengikuti workshop, mereka memahami bahwa media yang dirancang secara tepat dapat meningkatkan perhatian, memperjelas pesan, dan membantu pasien mengingat informasi lebih lama.

Ke depan, Akbid Prestasi Agung berencana mengintegrasikan hasil karya mahasiswa ke dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan praktik klinik. Poster, infografis, model anatomi, dan video animasi yang telah melalui proses evaluasi akan digunakan dalam penyuluhan kesehatan ibu dan anak di berbagai kegiatan lapangan. Langkah ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat dampak nyata dari media yang mereka rancang.

Melalui pembelajaran desain media peraga ramah lansia dan anak, Akademi Kebidanan Prestasi Agung menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga mampu menjadi komunikator kesehatan yang efektif. Dengan memadukan prinsip desain universal, kreativitas visual, dan pendekatan berbasis kebutuhan audiens, mahasiswa memperoleh bekal penting untuk menyampaikan informasi kesehatan secara lebih inklusif, menarik, dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

admin
https://akbidpresagung.ac.id