Profesi bidan menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis. Seorang bidan harus memiliki etika profesi yang kuat dan kemampuan komunikasi terapeutik yang baik agar mampu memberikan pelayanan kebidanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kebutuhan klien. Dalam konteks pendidikan kebidanan, pembentukan sikap profesional, etika, dan komunikasi tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran keterampilan klinis.

Di Akademi Kebidanan Prestasi Agung, mata kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan (KDK) menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa. Melalui pembelajaran KDK, mahasiswa tidak hanya diajarkan prosedur kebidanan dasar, tetapi juga dilatih untuk menerapkan etika profesi dan komunikasi terapeutik dalam setiap tindakan. Artikel ini membahas bagaimana pembelajaran KDK berperan dalam memperkuat etika dan komunikasi terapeutik mahasiswa kebidanan sebagai calon bidan profesional.
Keterampilan Dasar Kebidanan sebagai Fondasi Profesionalisme
Keterampilan Dasar Kebidanan merupakan mata kuliah inti yang mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi praktik klinik. Pembelajaran KDK dirancang secara bertahap, mulai dari pengenalan konsep hingga praktik langsung menggunakan phantom dan simulasi kasus.
Dalam pembelajaran ini, mahasiswa dilatih untuk bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP), menjaga keselamatan klien, serta menunjukkan sikap profesional sejak awal pendidikan. KDK tidak hanya menekankan aspek “bagaimana melakukan tindakan”, tetapi juga “bagaimana bersikap” dan “bagaimana berkomunikasi” dengan klien.
Dengan demikian, KDK menjadi sarana utama untuk menanamkan nilai-nilai etika kebidanan dan membentuk kebiasaan komunikasi yang baik sebelum mahasiswa berhadapan langsung dengan pasien di lahan praktik.
Baca Juga: Lawan Kekerasan Seksual, Akbid Prestasi Agung Resmikan Satgas Khusus
Pentingnya Etika dalam Praktik Kebidanan
Etika merupakan landasan moral dalam setiap pelayanan kebidanan. Bidan dituntut untuk menghormati martabat klien, menjaga privasi, bersikap jujur, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan. Dalam pembelajaran KDK, etika kebidanan diperkenalkan dan diterapkan secara nyata melalui praktik sehari-hari di laboratorium.
Mahasiswa dibiasakan untuk meminta izin sebelum melakukan tindakan, menjelaskan prosedur dengan bahasa yang sopan, serta menjaga kenyamanan klien selama praktik simulasi. Kebiasaan ini melatih mahasiswa untuk selalu menempatkan klien sebagai subjek, bukan objek pelayanan.
Selain itu, mahasiswa juga diajarkan pentingnya kerahasiaan data klien, meskipun dalam konteks simulasi. Hal ini bertujuan menanamkan kesadaran bahwa etika profesi harus dijunjung tinggi dalam setiap situasi, baik saat praktik pembelajaran maupun di dunia kerja nantinya.
Komunikasi Terapeutik sebagai Kunci Pelayanan Kebidanan
Komunikasi terapeutik merupakan kemampuan berkomunikasi yang bertujuan membantu klien merasa aman, dipahami, dan didukung secara emosional. Dalam pelayanan kebidanan, komunikasi terapeutik sangat penting karena klien sering berada dalam kondisi rentan, cemas, atau takut.
Melalui pembelajaran KDK, mahasiswa dilatih untuk membangun komunikasi yang empatik, ramah, dan profesional. Mahasiswa belajar menggunakan bahasa yang mudah dipahami, intonasi yang menenangkan, serta sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dan kepedulian.
Latihan komunikasi terapeutik dilakukan secara terintegrasi dalam setiap praktik keterampilan dasar kebidanan. Mahasiswa tidak hanya dinilai dari ketepatan tindakan, tetapi juga dari cara berkomunikasi dengan klien simulasi, termasuk kemampuan mendengarkan dan merespons kebutuhan klien dengan tepat.
Metode Pembelajaran dalam Penguatan Etika dan Komunikasi
Akademi Kebidanan Prestasi Agung menerapkan berbagai metode pembelajaran dalam mata kuliah KDK untuk memperkuat etika dan komunikasi terapeutik mahasiswa, antara lain:
1. Demonstrasi dan Redemonstrasi
Dosen terlebih dahulu mendemonstrasikan prosedur kebidanan yang disertai contoh komunikasi dan sikap etis. Mahasiswa kemudian melakukan redemonstrasi dengan meniru tidak hanya teknik, tetapi juga cara berinteraksi dengan klien.
2. Simulasi Kasus
Mahasiswa dihadapkan pada skenario kasus kebidanan sederhana yang menuntut kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan. Simulasi ini membantu mahasiswa memahami pentingnya etika dan komunikasi dalam situasi nyata.
3. Diskusi dan Refleksi
Setelah praktik, mahasiswa diajak berdiskusi dan melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar. Melalui refleksi, mahasiswa dapat mengevaluasi sikap, cara berkomunikasi, serta aspek etika yang perlu diperbaiki.
Peran Tugas Akademik dalam Pembentukan Soft Skills
Tugas-tugas dalam pembelajaran KDK dirancang tidak hanya untuk mengasah keterampilan teknis, tetapi juga untuk mengembangkan soft skills mahasiswa. Beberapa tugas yang berperan dalam penguatan etika dan komunikasi terapeutik antara lain laporan praktik, studi kasus, dan refleksi pembelajaran.
Dalam laporan praktik, mahasiswa diminta menjelaskan bagaimana mereka menerapkan komunikasi terapeutik dan etika selama praktik. Studi kasus melatih mahasiswa untuk menganalisis situasi klien dan menentukan pendekatan komunikasi yang tepat. Sementara itu, refleksi pembelajaran membantu mahasiswa menyadari perkembangan sikap profesionalnya.
Melalui penugasan ini, mahasiswa belajar bahwa kompetensi bidan tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari sikap dan cara berinteraksi dengan klien.
Peran Dosen sebagai Teladan dan Pembimbing
Dosen memiliki peran strategis dalam membentuk etika dan komunikasi terapeutik mahasiswa. Dalam pembelajaran KDK, dosen tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan sikap profesional.
Dosen memberikan contoh komunikasi yang santun, cara memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menanamkan nilai-nilai etika dalam setiap kegiatan pembelajaran. Pendampingan dan supervisi yang konsisten membantu mahasiswa memahami kesalahan dan memperbaiki sikap secara berkelanjutan.
Hubungan yang positif antara dosen dan mahasiswa juga menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif, sehingga mahasiswa lebih percaya diri dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan profesionalismenya.
Dampak Pembelajaran terhadap Kesiapan Mahasiswa
Penguatan etika dan komunikasi terapeutik melalui KDK memberikan dampak signifikan terhadap kesiapan mahasiswa dalam menghadapi praktik klinik. Mahasiswa menjadi lebih percaya diri, mampu berkomunikasi dengan klien secara efektif, serta memahami pentingnya sikap profesional dalam pelayanan kebidanan.
Mahasiswa yang terbiasa menerapkan etika dan komunikasi terapeutik sejak dini cenderung lebih mudah beradaptasi di lahan praktik. Mereka mampu menjalin hubungan yang baik dengan klien dan tenaga kesehatan lain, sehingga proses pelayanan berjalan lebih efektif.
Selain itu, pembelajaran ini juga membentuk karakter mahasiswa sebagai calon bidan yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan klien.
Tantangan dalam Pembelajaran Etika dan Komunikasi
Meskipun pembelajaran KDK telah dirancang secara sistematis, terdapat beberapa tantangan dalam penguatan etika dan komunikasi terapeutik. Perbedaan karakter dan kepercayaan diri mahasiswa menjadi salah satu tantangan utama.
Sebagian mahasiswa masih merasa canggung atau kurang percaya diri saat berkomunikasi, terutama dalam simulasi awal. Namun, melalui latihan berulang, bimbingan dosen, dan evaluasi berkelanjutan, hambatan tersebut dapat diatasi secara bertahap.
Tantangan ini justru menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu mahasiswa berkembang secara personal dan profesional.
Kesimpulan
Penguatan etika dan komunikasi terapeutik mahasiswa melalui Keterampilan Dasar Kebidanan merupakan bagian penting dalam pendidikan kebidanan di Akademi Kebidanan Prestasi Agung. Pembelajaran KDK tidak hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika dan kemampuan komunikasi yang esensial dalam pelayanan kebidanan.
Melalui metode pembelajaran yang terintegrasi, tugas-tugas relevan, serta peran aktif dosen sebagai pembimbing, mahasiswa dipersiapkan menjadi calon bidan yang profesional, empatik, dan beretika. Penguatan etika dan komunikasi terapeutik sejak dini menjadi modal utama bagi mahasiswa dalam memberikan pelayanan kebidanan yang berkualitas dan berorientasi pada keselamatan ibu dan bayi.
Dengan demikian, Keterampilan Dasar Kebidanan tidak hanya berfungsi sebagai mata kuliah praktik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan soft skills yang akan melekat sepanjang perjalanan profesional mahasiswa kebidanan.