Bunda Perlu Tahu! Cara Cek Bayi Kuning di Rumah Ala Bidan Prestasi Agung

Bunda Perlu Tahu! Cara Cek Bayi Kuning di Rumah Ala Bidan Prestasi Agung

Melahirkan buah hati ke dunia adalah momen paling membahagiakan bagi setiap orang tua. Namun, setelah pulang dari rumah sakit atau klinik, Bunda sering kali merasa cemas saat melihat perubahan fisik pada si kecil, salah satunya adalah kulit yang tampak menguning. Kondisi ini, yang secara medis disebut sebagai ikterus neonatorum, sangat umum terjadi pada bayi baru lahir. Namun, Bunda tetap harus waspada dalam membedakan mana yang normal dan mana yang memerlukan penanganan medis segera. Para akademisi dan calon bidan di Akademi Kebidanan Prestasi Agung menekankan bahwa kemampuan deteksi dini di rumah adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius pada perkembangan sistem saraf bayi.

Mengapa Bayi Bisa Menjadi Kuning?

Bayi menjadi kuning karena adanya penumpukan bilirubin dalam darahnya. Bilirubin adalah pigmen berwarna kuning yang dihasilkan dari proses pemecahan sel darah merah yang sudah tua. Pada orang dewasa, organ hati bertugas menyaring bilirubin ini dan mengeluarkannya melalui feses. Namun, pada bayi baru lahir, fungsi hati mereka belum berkembang dengan sempurna, sehingga bilirubin cenderung menumpuk di bawah jaringan kulit dan selaput lendir mata.

Mahasiswa di Prestasi Agung mempelajari bahwa fenomena ini terbagi menjadi dua, yaitu ikterus fisiologis (normal) dan patologis (tidak normal). Kuning yang normal biasanya muncul pada hari kedua atau ketiga setelah kelahiran dan akan menghilang dengan sendirinya setelah satu hingga dua minggu seiring dengan semakin matangnya fungsi hati bayi. Sementara itu, kuning yang patologis muncul kurang dari 24 jam setelah lahir atau bertahan lebih dari dua minggu, yang memerlukan perhatian khusus dari tenaga medis.

Langkah Praktis Cara Cek Bayi Kuning di Rumah

Bunda tidak selalu membutuhkan peralatan laboratorium canggih untuk melakukan pemantauan awal. Berdasarkan panduan praktis yang diajarkan di lingkungan Akademi Kebidanan, berikut adalah langkah-langkah yang bisa Bunda lakukan secara mandiri di rumah:

  1. Pencahayaan yang Cukup: Periksalah kondisi kulit bayi di ruangan yang mendapatkan cahaya matahari alami yang terang. Hindari menggunakan lampu ruangan yang berwarna kekuningan atau remang-remang karena akan menyulitkan Bunda melihat warna asli kulit si kecil.
  2. Metode Tekan Jari: Gunakan jari Bunda untuk menekan lembut kulit bayi di area tulang hidung, dahi, atau dada selama beberapa detik, lalu lepaskan. Pada kulit bayi yang normal, area yang ditekan akan tampak putih sejenak sebelum kembali ke warna asal. Namun, jika area tersebut tetap berwarna kuning setelah tekanan dilepaskan, itu adalah tanda adanya penumpukan bilirubin.
  3. Perhatikan Bagian Putih Mata: Selain kulit, bagian putih mata (sklera) adalah tempat yang paling mudah untuk mendeteksi warna kuning. Jika bagian putih mata bayi tampak menguning, Bunda perlu meningkatkan kewaspadaan.
  4. Cek Arah Penyebaran: Kadar bilirubin biasanya mulai terlihat dari wajah, kemudian turun ke dada, perut, hingga ke ujung kaki. Semakin luas area kuning (sampai ke telapak tangan atau kaki), maka semakin tinggi kemungkinan kadar bilirubin dalam darah bayi.

Kapan Bunda Harus Khawatir?

Meskipun sebagian besar kasus bersifat normal, ada beberapa “lampu merah” yang harus Bunda perhatikan. Para tenaga kesehatan dari Prestasi menekankan agar Bunda segera membawa bayi ke dokter atau bidan jika menemukan gejala-gejala berikut:

  • Bayi tampak lemas dan sangat sulit dibangunkan untuk menyusu.
  • Suara tangisan bayi terdengar melengking atau tidak seperti biasanya.
  • Bayi tidak mau menghisap ASI dengan kuat.
  • Tubuh bayi tampak melengkung ke belakang.
  • Warna kuning muncul sangat cepat dalam 24 jam pertama atau menyebar hingga ke kaki dalam waktu singkat.
  • Warna feses bayi tampak pucat seperti dempul atau urine berwarna sangat pekat.

Gejala-gejala di atas bisa menjadi indikasi adanya peningkatan kadar bilirubin yang sangat tinggi, yang jika dibiarkan dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan kerusakan otak permanen (kernikterus). Itulah mengapa observasi bayi secara teliti di rumah sangatlah krusial.

Rahasia Penanganan di Rumah: ASI dan Sinar Matahari

Salah satu cara alami untuk membantu bayi mengeluarkan kelebihan bilirubin adalah dengan memberikan nutrisi yang cukup. Bilirubin dibuang melalui sisa metabolisme tubuh. Semakin banyak bayi menyusu, semakin sering ia akan buang air besar dan kecil, yang berarti semakin banyak bilirubin yang terbuang. Bunda disarankan untuk menyusui bayi setidaknya 8 hingga 12 kali dalam sehari.

Selain itu, menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi sering kali menjadi saran turun-temurun. Namun, para ahli di Akademi Kebidanan mengingatkan bahwa menjemur bayi bukanlah terapi utama untuk menurunkan bilirubin yang tinggi, melainkan hanya membantu metabolisme vitamin D dan memberikan efek hangat. Pastikan bayi tidak terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu lama untuk menghindari risiko luka bakar atau dehidrasi. Waktu terbaik adalah pagi hari sebelum jam 9 selama 10-15 menit dengan pelindung mata yang memadai.

Peran Akademi Kebidanan Prestasi Agung dalam Edukasi

Sebagai institusi pendidikan, Akademi Kebidanan Prestasi Agung berkomitmen untuk membekali mahasiswanya dengan kemampuan komunikasi terapeutik. Seorang bidan harus mampu menjelaskan kondisi medis kepada Bunda dengan cara yang tenang dan tidak menakuti, namun tetap tegas dalam memberikan peringatan keamanan.

Edukasi yang diberikan mencakup cara penggunaan alat ukur bilirubin non-invasif (bilicheck) hingga prosedur fototerapi di rumah sakit jika diperlukan. Mahasiswa diajarkan untuk menjadi pendamping bagi para ibu baru, memberikan bimbingan tentang teknik menyusui yang benar agar asupan bayi tercukupi, yang secara langsung berdampak pada penurunan kadar kuning. Kesiapan bidan dalam memberikan informasi yang akurat akan sangat membantu kesehatan ibu dan anak di masyarakat.

Pentingnya Dukungan Keluarga

Menghadapi bayi yang kuning bisa membuat Bunda merasa lelah dan stres. Dukungan dari Ayah dan anggota keluarga lainnya sangat dibutuhkan untuk memastikan Bunda bisa beristirahat cukup dan tetap fokus pada pemberian ASI. Kelelahan Bunda dapat memengaruhi produksi ASI, yang pada akhirnya memperlambat proses pemulihan bayi.

Keluarga harus saling membantu dalam memantau jadwal menyusui dan memperhatikan tanda-tanda bahaya pada si kecil. Jika Bunda merasa ragu dengan kondisi anak Anda, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Tidak perlu menunggu sampai bayi tampak sangat kuning untuk mendapatkan bantuan medis.

Pencegahan Sejak Masa Kehamilan

Tahukah Bunda bahwa risiko bayi kuning juga bisa dipetakan sejak masa kehamilan? Perbedaan golongan darah antara Bunda dan bayi (seperti perbedaan rhesus atau golongan darah O pada Bunda dengan golongan darah A atau B pada bayi) dapat meningkatkan risiko anemia hemolitik yang memicu kuning setelah lahir. Melalui pemeriksaan rutin di layanan kebidanan, potensi risiko ini dapat dipantau sehingga tim medis bisa bersiap melakukan penanganan lebih cepat setelah persalinan.

Pendidikan yang matang bagi calon praktisi di Agung memastikan bahwa setiap persalinan yang mereka tangani diikuti dengan pemantauan masa nifas yang ketat. Kunjungan nifas bukan hanya untuk memeriksa luka jahitan Bunda, tetapi juga untuk memastikan transisi kehidupan bayi di luar rahim berjalan dengan sempurna, bebas dari risiko gangguan bilirubin yang berlebihan.

Kesimpulan

Mengenali ciri-ciri bayi kuning adalah keterampilan dasar yang sangat bermanfaat bagi setiap orang tua baru. Dengan memahami cara cek yang tepat di rumah, Bunda bisa bertindak lebih cepat dan tepat. Ingatlah bahwa sebagian besar kasus kuning adalah hal yang wajar, namun kewaspadaan tidak boleh kendur.

Terima kasih kepada dedikasi para pendidik dan mahasiswa di Akademi Kebidanan Prestasi Agung, literasi mengenai kesehatan bayi baru lahir dapat tersebar lebih luas di tengah masyarakat. Mari jaga kesehatan buah hati kita dengan asuhan yang penuh kasih, nutrisi yang cukup, dan observasi yang cerdas. Bayi yang sehat adalah awal dari masa depan yang cerah bagi setiap keluarga.

Baca Juga: Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa Melalui Praktik Simulasi Klinis di Laboratorium Kebidanan

admin
https://akbidpresagung.ac.id